ribuan detik telah terlewati sudah belajar pada teriknya matahari sudah belajar jatuh pada hujan senja telah datang
sudah hampir waktunya... melepas penat lelah menutup mata sejenak
i know this sound ridiculous, my best friend left this letter in previous day at the Sultan Hasanudin Airport, hiding under the world clock, "nyempil" in the bottom corner seat and i was looking for it as well. We have fun!
Mendadak saya harus ke Jayapura sebelum mudik ke jawa, untung saya sudah di Merauke jadi tinggal naik pesawat sekali. Ada teman datang ke Jayapura jadi kita mau ketemuan. Dan ingat gak di postingan saya sebelumnya yang ada gunung bertulikan "Jayapura City" yanga kayak di Holywood itu. Yes, here we are!! Dari sini dapat dilihat pemandangan Kota Jayapura dari ketinggian. So high and beautiful. :)
hey kamu.. yang entah datang darimana kamu yang gak mau dipanggil "kamu" iyaa kamu itu kenapa kamu gak mau kupanggil "kamu"?
hey kamu tentunya kamu yang mencuri hatiku yang menceriakan pagiku tidakkah kau bosan mendengar dengkur nafas ketiduranku? tidakkah kau lelah membuatku tersenyum di setiap pagiku? bagaimana kau bisa melakukan itu? bagaimana bisa kamu membuatku menyanyikan lagu untukmu?? menyanyikan lagu...tak pernah kulakukan pada siapapun kamu.. iya..tentu kamu.. bagaimana bisa membuatku jadi peduli padamu? Get well soon, My Capt! :)
Tonight was heavy rain. and i were worried about the seed that planed yesterday. Are they still ok?? how if they washed out?? what a pity :( But..look!! when i see them in early morning, they get grow instead..subhanallaahhh...
Even when it rain, and they get soaked, they still put there.. Growing and growing.. I want to be that strong too! Thank Allah for remain me, feel like you huge me tighly.. :)
Beberapa hari kemaren saya tidak bisa menyalakan
TV karena jenset rusak, tidak ada listrik. Jadi baru tahu ada berita demo
besar-besaran tentang kenaikan BBM hari ini. Saya memang bukan orang Papua,
hanya bertugas dan mendapat penempatan di Papua. Melihat tayangan demo di TV saya merasa
miris. Disini ada sudut pandang dan pernyataan kami, saya dan teman-teman saya
di Papua, saudara kita sebangsa setanah air Indonesia, semoga bisa membuka
mindset dan cara berfikir kita.
Kami masyarakat Papua setuju dengan Kenaikan
BBM, dengan harga Rp 6000/liter pun tak jadi masalah, yang penting SPBU jangan
kosong. Toh kami terbiasa membelibensin eceran dengan harga Rp 15.000 – Rp
40.000,- Hingga kalau kekosongan BBM
kami bisa beli bensin eceran hingga Rp 50.000/liter. Jadi kalian di Jawa, Bali,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi coba lihat nasib kami, saudara kalian yang
tinggal di daerah, khususnya wilayah Indonesia Timur. Kami kekosongan SPBU
bahkan sampai ber minggu-minggu sudah hal biasa. Kalian kekosongan 1-2 hari sudah
ribut luar biasa, diliput media pula, sedangkan kami tidak pernah diperhatikan.
Ingat!!! Indonesia bukan hanya wilayah barat dan tengah, masih ada Indonesia
wilayah Timur. Lihatlah saudara-saudara kita di pedalaman Papua, di Mappi
bensin Rp 15.000, Tolikara Rp 30.000, Yahukimo Rp 30.000, Pegunungan Bintang Rp 35.000, Puncak Jaya Rp 40.000,- . Teman saya di
Puncak Jaya kemaren padam listrik 24 hari, tidak bisa menyalakan listrik karena
SPBU kosong, sekali ada bensin harus antri dari subuh sampe jam 12 siang itu
pun hanya dapat 5 liter. Ini hanya sebagian dari contoh, saya yakin Rakyat
Indonesia adalah bangsa yang besar, yang ulet, dan pekerja keras, kita dapat
bertahan dengan kenaikan BBM ini. Rakyat Papua aja bisa masa yang lain gak
bisa.
Kami bukan mewakili Pemerintah, Partai, ORMAS,
maupun LSM. Kami hanya ingin mencoba pikiran teman-teman agar tidak sering
mengeluh dan bertindak anarkis. Mari kita berusaha bekerja lebih keras lagi,
lebih berusaha lagi, lebih kreatif lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Saya
yakin kita, bangsa Indonesia BISA bertahan.
Mereka adalah
anak-anak Pantai Soba, Mappi, Papua.
Mereka tidak tahu presidennya siapa, Pancasila apa, politik apa, dan
hal-hal tetek mbengek lainnya. Yang mereka tahu hanya Persipura, Cornelis Kaimu,
memanjat dan menjual kelapa muda. Ketika
anak-anak seusia mereka yang berada di Jawa mempunyai mainan mobil-mobilan,
mainan mereka adalah parang dengan panjang sepanjang 15 cm.Dengan kondisi Papua
yang bahan makanan mahal,jumlah sekolah dan guru kurang, fasilitas kesehatan
minim ini. Kalau orang-orang di luar Papua ada yang mengeluh merasa diperlakukan
tidak adil, merasa paling kesusahan, paling
miskin, paling menderita dengan hal sepele, tidak tahukah mereka bahwa rakyat
papua ini sebenernya lebih susah.
Sekotak wafer superman sudah jadi barang mewah, membuat mata mereka
berbinar-binar senang. Sebenarnya siapa yang diperlakukan tidak adil disini.
Saya tidak mau banyak omong, menghujat sana-sini siapa yang salah, saya tidak
mau menjadi wasit sepak bola, yang pekerjaannya menyemprit tiap saat – “Offside”, “handball’,”pemerintah
salah”,”turunkan presiden” dan seterusnya. Bukankah kita juga bisa menjadi
pemain bola yang baik. Yang mengajarkan kita untuk berfikir kreatif –“what
can I do?”,”saya harus ikut membantu”, dan seterusnya. Lebih baik ikut membantu, ikut partisipasi, sekecil apapun itu.